Minggu, 23 Juli 2017




Ini sudah ketiga kalinya aku melewati gang yang sama saat pertama kali belok dari Jalan Raya tadi. Motor matic warna putih yang kutunggangi melaju lambat. Kornea mataku mengitar kanan kiri, menyisir kembali rumah demi rumah yang dilalui. Hasilnya? Tetap saja nihil. 

Motor Vario itu terpaksa berhenti. Tepat di depan mushola tanpa halaman yang masih sepi. Tatapan penasaran beberapa orang yang duduk santai di emper rumah saat sore hari membuatku enggan untuk melanjutkan pencarian. 

Kutarik slayer motif batik itu hingga di bawah hidung. Ingatanku mencoba berkelana saat aku berangkat bersama suamiku--yang menaiki motornya sendiri--pagi tadi. Aku mendengus sebal. Jangankan rute jalan yang dilewati, bagaimana ciri rumahnya saja aku bahkan tak bisa mengingatnya. Ugh, payah!

Tanpa turun dari motor, tanganku merogoh smartphone dari saku jaket LDK yang kubiarkan resletingnya terbuka. Belum kugeser layarnya, sontak aku mendesis kesal. Apa-apaan ini? Istri mana yang nomor suaminya sampai tak ada di kontak hpnya? 

Beuh... Aku membuang napas frustasi. Kubenamkan wajah ovalku ke spidometer motor. Pasrah.

***

"Yakin? Nggak diantar ke kampus, Dek?" tanya suamiku saat motor kami  berhenti setelah keluar dari gang masuk kampung pagi tadi. Hanya sekadar memastikan lagi.

Aku menoleh ke arahnya. "Enggak usah, Mas. Aku udah biasa motoran sendiri kok. Mas nggak perlu khawatir," jawabku dengan senyum terkulum, meyakinkannya lagi. Aku tahu, ia mungkin khawatir jika aku sampai tersesat jalan. Tapi aku paham, ia juga punya kesibukan sendiri. Lagipula, toh arah kampus kami memang berlainan, tidak sejalur. 

Ya, kami baru saja menikah hari kemarin. Pernikahan yang kilat dengan proses se-ekspres mungkin. 

Seminggu lalu aku dibuat terhenyak saat Ustadz Burhan menelponku. Kata beliau, ada seseorang yang ingin ta'aruf denganku. Hari itu juga.

Aku kontan kelabakan. Usai jam mata kuliah jurnalisitik selesai, kugeber motor matic itu ke rumah ustadz Burhan di Solo Baru. Dari kampusku di Kentingan, hanya butuh waktu 20 menit untuk sampai ke sana.

Tanpa sempat membasuh muka atau sekadar membenahi jilbab, aku bertemu dengan lelaki itu. Aku tak peduli bagaimana penampilanku. Mungkin kulit langsatku diluluri debu dan asap kendaraan.

Pandanganku masih tertunduk. Jantungku berdetak tak karuan. Kaki dan jemari tanganku sedikit gemetar. Napasku seakan tertahan.

"Lihatlah dia, Azalea. Jangan menunduk terus. Saat begini, kamu boleh melihat calonnya," ucap Ustadz Burhan yang duduk di sebelah lelaki itu memecah kebekuan.

Aku menarik napas dalam. Kuberanikan untuk memandang lelaki yang duduk di sofa, tepat di depanku. Tatapan kami seketika bertemu. Seutas senyum tersungging dari sudut bibirnya. Aku balas dengan senyum malu-malu, lalu kembali menunduk agar rasa nervous itu tidak berlarut-larut menjalar di sekujur tubuh semampaiku. Entah mengapa, hanya sekali pandang hatiku langsung melumer. Mungkin warnanya sudah berubah menjadi merah jambu.

Aku tidak mengenal lelaki berjenggot tipis itu. Kata Ustadz Burhan, ia tahu saat melihatku muncul di televisi dakwah sebagai reporter yang mewawancarai jama'ah pengajian Ahad Pagi. Itulah kali pertama aku ditugaskan di sana setelah sebulan sebelumnya menjalani masa training. 

Namanya Wafi Alfiras. Dosen muda di Fakultas Ekonomi sebuah universitas Islam di Solo. Umurnya baru 27 tahun. Dari perawakannya, ia terlihat lebih muda dibanding usia aslinya. Kulitnya putih bersih, potongan rambut cepak dengan belah samping dan kemeja lengan pendek warna biru tosca dipadu dengan celana bahan warna hitam membuatnya sepintas seperti anak kuliahan.

Aku hanya diberi waktu empat hari untuk mempertimbangkan ta'arufnya. Ia memberiku segepok proposal berisi profil pribadi beserta visi misi saat menikah nanti. Sejak awal, hatiku sudah condong dengannya, apalagi setelah istiharah, keyakinan itu makin bertambah. Ya, aku memilihnya.

Dua hari kemudian ia beserta keluarganya dari Purwakarta melamarku. Dan secara mengejutkan, ayahku langsung menikahkan kami hari itu juga begitu tahu saksi dari pihak calon suami maupun istri sudah lengkap dan mahar juga sudah siap. Ayahku memang tegas soal ini, beliau tidak mau menunda-nunda untuk segera menghalalkan.

Karena kami sama-sama ada ujian semester esok hari, ba'da Isya ia langsung memboyongku menaiki maticku dari Sragen menuju rumahnya di Kartosura. Rencananya kami baru mendaftarkan pernikahan dua hari kemudian setelah sama-sama tidak ada jadwal ujian. 

"Dek..." Lelaki dengan motor Vixion warna merah itu membuyarkan lamunanku. "Semoga lancar ujiannya ya," katanya mengulang seperti yang sudah ia katakan di rumah tadi. 

Aku tersenyum, lalu mengangguk. "Semoga Mas juga," ucapku kepadanya. Ya, meskipun ia tidak ikut ujian, hanya sebagai dosen yang menjaga ujian.



Jalan dari arah barat tampak lengang.  Aku segera menaikkan gas motor setelah sebelumnya mengucap salam kepada suamiku. Matic kesayanganku lantas melenggang ke arah timur. Dari balik kaca spion, kulihat ia belum beranjak juga. Ia masih mengamatiku, seakan berat membiarkanku berangkat sendiri. 

***

Aku membuang napas melalui mulutku hingga memperlihatkan bibir tipisku agak maju ke depan. Kubenahi posisi dudukku agar tidak terasa pegal karena terlalu lama duduk. Kusandarkan tubuh kuyu itu ke dinding tembok teras mushola. Sesekali kulirik smartphone di tanganku. Belum juga ada balasan. Aku hanya bisa meninggalkan inbox di akun Facebook suamiku yang sudah meng-add friend seminggu yang lalu. 

Aku mendesah pelan. Sudah sejam aku duduk di sini. Mungkin tiga perempat jam lagi, mushola ini akan ramai dijejali jama'ah yang hendak menunaikan shalat Maghrib. 

Sepasang kaki dengan celana bahan warna hitam berdiri di sampingku. Aku perlahan mendongak, menelusuri tubuh tingginya hingga sampai ke wajah. Aku terpana. Iris mata meneduhkan itu masih menyiratkan segumul kekhawatiran di sana. Ada kelegaan dari gurat senyumnya. 

Ia duduk di sampingku. Tangan kokohnya meraih tanganku lembut. Digenggamnya jemariku erat. "Maaf ya, Dek. Aku seharusnya tidak membiarkanmu berangkat sendiri tadi pagi."

Aku masih mematung dengan perlakuan romantisnya. Senyumnya merekah. "Seharusnya kalimat pertama yang kutanyakan padamu selepas halal adalah menanyakan nomor hpmu, Dek Azalea."

Apa dia sedang mencoba becanda? Ah, benar. Momen romantis itu seketika buyar ketika kulihat lelaki di sampingku ini tengah menahan tawanya.

-selesai-

*cerpen ini dimuat di Majalah Al-Mar'ah edisi Juni 2017. Rubrik cerpen majalah ini cocok buat penulis pemula. Silahkan kirimkan cerpen bertema Islami. Panjang naskah sekitar 800 - 1000 kata. Kirimkan ke email muslimahmta@yahoo.com atau almarahsholihah@gmail.com. Jangan lupa sertakan nomor hp agar jika dimuat dapat kabar. 

*cerpen terinspirasi dari kisah saya sendiri : Uniknya Menikah Tanpa Pacaran

Senin, 15 Mei 2017




Rasanya telinga saya sudah terlampau panas dengan curcolan orang-orang. Dan yang paling kaget buat saya, suami yang (maaf) sampai selingkuh ini saya mengenalnya sebagai suami yang baik dan bahkan ada juga yang terlihat alim.

Rasanya saya ikut merasakan sakit ketika seorang teman menginbox saya.  Kala itu dia bilang dia suka dengan tulisan saya berjudul, "Maklumilah Istrimu yang Tak Sempurna."

Dalam hati saya sudah menangkap ada yang janggal ketika dia komen begitu di inbox. Apa ada masalah dengan suaminya? Tapi saya ragu. Saya juga kenal suaminya. Saya tahu dia baik bahkan tipikal orang yang tak mudah berpindah ke lain hati. Sampai kemudian tanpa saya tanya, dia sudah curhat sendiri. Hal yang membuat saya sakit, dia yang kala itu dalam keadaan hamil ditinggal suaminya karena kepincut dengan wanita lain, rekan sekantornya. Dan lebih memilukan lagi, dia harus melahirkan tanpa didampingi suami. 😭😭

Suami dari si fulanah yang saya kenal juga selingkuh dengan rekan kerjanya. Saya tidak terlalu mengenal suaminya. Tapi sejauh yang saya tahu, dia ini kalem. Nggak nyangka jika dia sampai begini. Yang tambah miris, dia sudah ikut mengaji di majlis ilmu, bahkan sudah tergabung dalam kajian khusus yang anggotanya hanya orang-orang tertentu saja. Na'udzubillah min dzalik.

Dia sampai dikeluarkan dari tempat ngajinya. Sudah dikeluarkan pun, dia masih setia dengan selingkuhannya. Dan yang membuat saya heran beribu heran, istrinya masih setia bersamanya meski di rumah tak saling sapa hingga bertahun-tahun. Mereka akhirnya bercerai baru-baru ini.

Dan kisah ketiga dari suami teman yang saya kenal juga. Saya lebih kaget dengan si suami ini. Padahal, saya selalu memuji semangatnya ikut andil dalam perjuangan dakwah jika saya mengobrol dengan suami saya. Dengan istrinya pun saya menaruh takjub karena dia terlihat pintar mendidik anak-anaknya. Sampai saya dibuat terhenyak dengan kabar perselingkuhan suaminya dengan rekan kerjanya. Dia bahkan langsung dikeluarkan dari tempat ngajinya begitu ketahuan.

Saya sedih sekali jika mendengar curcolan macam ini. Ini terlampau menyakitkan. Sakit kebangetan. 😭😭 Andai suami model beginian ada di depan saya, mungkin sudah saya siram dengan air comberan. Biar dia nyadar, kalau air comberan itu baunya nggak enak. 😣😀

Saya tahu lingkungan kerja itu seperti apa. Dalam lingkungan kerja, kita dituntut untuk kerja secara tim. Karena kerja secara tim, besar kemungkinan mereka yang lain jenis sekalipun akan akrab satu sama lain. Dari modus pertemanan sesama rekan kerja membuat jalinannya semakin dekat. Obrolan dari seputar pekerjaan lama-lama melebar ke ranah pribadi.

Apalagi jika istrinya tidak bisa jadi partner terbaik dalam segala hal. Tingkahnya juga nyebelin di rumah. Dengan penampilan ala kadarnya saat berada di rumah, boleh jadi akan membuat suami jenuh. Dibanding dengan rekan kerja yang terlihat segar secara tampilan, diajak ngobrol pun asyik, boleh jadi akan 'menggoda' suami yang nggak tahan iman, berpindah ke lain hati. Bahkan sampai berujung ke arah zina. Na'udzubillah min dzalik.

Tapi bukan lantas kekurangan istri dijadikan justifikasi sehingga suami kepincut dengan yang lain. Suami itu pemimpin. Jika ada dari sifat istri yang tidak disukainya, kenapa tidak menegurnya baik-baik? Berilah masukan. Kalau istri memang tidak secantik mereka, kenapa nggak dikasih tambahan uang untuk perawatan? Kata orang, cantik itu butuh proses plus butuh modal. Karena se-nggak cantiknya wanita, pasti dia lebih cantik dari seorang pria. Jadi semua wanita itu cantik, asal mau mempercantik diri.  (Tapi, inget lho tri, istri, mending cantiknya di depan suami saja. Kalo kebalik bahaya tauk! Apalagi pake ikut meme daster challenge yang sempat viral beberapa waktu lalu πŸ˜„πŸ˜„).

Dalam pernikahan itu soal bagaimana pasangan suami istri bisa saling memahami satu sama lain. Tanpa ini, yang ada akan terjadi salah paham, terlalu banyak menuntut, cek cok mulu endebre endebre. #lagi2endebre πŸ˜‚πŸ˜‚

Godaan di luar sana terutama di lingkungan kerja itu sangat kuat sekali. Bahkan untuk suami yang terlihat alim sekalipun, dia bisa saja goyah. Seperti dua kasus yang saya ceritakan di atas.

Pun begitu, istri seharusnya juga introspeksi diri. Mungkin karena terlalu cemburu, terkadang mencurigai suami. Bahkan hanya isi pesan tentang pekerjaan saja--lantaran dikirimkan oleh rekan kerja yang wanita--dia juga menaruh curiga.



Ada baiknya suami mengenalkan istrinya pada rekan kerjanya di kantor terutama yang wanita. Mungkin bisa mengajak serta saat menghadiri resepsi pernikahan teman kantor, buka bersama atau acara lainnya.

Paling tidak, dengan mengenalkan istri pada rekan kerjanya yang wanita, bisa meminimalisir kecurigaan. Dia bisa tahu siapa dan bagaimana rekan kerjanya. Seperti halnya teman-teman saya, banyak diantaranya adalah istri dari rekan kerja saya yang dulu. Meski saya sudah resign, kita tetap berhubungan baik biarpun sebatas komentar di sosial media.

Agak nyesek juga pas baca statusnya orang yang pernah jadi viral. Ada suami yang malu ngajakin istrinya yang seorang IRT pergi ke resepsi teman kantor atau acara kantor lainnya karena tampilan istrinya nggak se-wah teman sekantornya. Padahal suami saya saja, justru dia lebih nyaman kalau saya temanin. Sampai mau nonton futsal saja ngajakin saya. Nggak tahunya pas disana, cuman saya sendiri spesies kaum hawa (selain anak perempuan saya) yang nonton. Alamak! Lol.

So, Pak Suami, ingatlah Allah kapanpun dan dimanapun berada. Sifat Ihsan  (merasa diawasi Allah) harus tertanam lekat di hati kita. Kami nggak akan nuntut para suami agar setia pada pasangannya, cukup setialah pada Allah. Karena dengan setia kepada Allah sudah pasti dia akan menjaga keluarganya dengan sebaik-baiknya. Dia tidak akan mengkhianati Allah sehingga berbelok arah mengikuti jalan-jalan syaitan. 

Plis, Pak Suami, jangan coba dekati jalan yang menjurus kepada zina, sekalipun itu hanya sekadar tukar pesan doang. Allah berfirman yang artinya, "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-'Isrā' 32)

Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya syaitan dan iman kita tetap terjaga hingga maut memisahkan. Amiin.

*tulisan ini sudah saya bagi terlebih dahulu di facebook. :)

Minggu, 30 April 2017




Beberapa bulan lalu saya baca sebuah artikel. Disana dikisahkan ada seorang wanita muda yang baru beberapa bulan menikah, dia menangis saat bertanya di salah satu kajian. Dia merasa bahwa kehidupan pernikahannya justru membuatnya tidak bisa maju. Setelah menikah, dia hanya berada di rumah sebagai ibu rumah tangga. Sehari-hari dia dihadapkan dengan tetek bengek urusan rumah tangga: masak, mencuci, nyetrika, nyapu, ngepel dsb. Aktifitas kesehariannya hanya muter di seputaran itu. Inilah mengapa dia merasa kehidupan pernikahannya seolah mengekangnya.

Kisah si mbak ini mengingatkan saya pada salah seorang teman. Di tiga bulan pernikahannya, dia juga merasa jenuh karena hanya berdiam diri di rumah. Sampai waktu itu, dia nekat pergi ke tempat kerjanya dulu lalu mampir ke kosan kami (waktu itu saya belum menikah) untuk mengusir penat. Dia baru ijin kepada suaminya setelah sampai ke kosan kami dengan meminjam HP saya--karena dia setelah menikah tidak lagi pegang HP.

Karena tidak ijin, suaminya jelas marah. Sampai saya nggak sengaja menyaksikan 'genderang perang' sepasang pengantin baru ini hingga sang suami menanyakan perpisahan. Kontan saja saya terkaget. Saya sendiri sebelumnya juga tidak tahu jika dia belum ijin ke suaminya. Karena sadar, ada orang lain yang tanpa sengaja tahu, sang suami lantas menerangkan bahwa hubungan mereka baik-baik saja. Dia bahkan sampai menjelaskan bahwa dia sangat mencintai istrinya. Dia juga meminta saya untuk menasehatinya karena, katanya, istrinya sangat sulit dinasehati.

Walau si teman tadi belum ijin, entah mengapa saya sedikit memaklumi. Terlepas, keluar rumah tanpa ijin suami tentu tidak dibenarkan. Kenapa saya memaklumi? Pertama, karena si teman tadi masih tergolong baru ikut kajian di tempat saya mengaji. Dia pun kenal kajian tersebut karena naksir dengan seseorang yang kini jadi suaminya. Saya juga mengenal teman ini sehari-harinya baik. Dia bisa dididik dan dinasehati secara halus andai suaminya mau bersabar menghadapi istri pilihannya. 

Kedua, soal dia yang merasa jenuh di rumah, siapa yang nggak jenuh jika hanya berdiam diri di rumah? Kegiatannya hanya soal tugas rumah tangga. Tanpa boleh kemana-mana. Dan tanpa HP. Perlu dicatat, setelah dia menikah, dia tak lagi pegang HP. Entah suaminya yang tidak membolehkan atau karena apa. Yang jelas, saat menghubungi saya, dia selalu pakai nomor suaminya. Ketika kita ketemu di kajian Ahad, jika janjian dengan suaminya (ditunggu dimana setelah kajian selesai), dia akan pinjam HP saya jika berpapasan dengan saya.

Sejujurnya, saya gatel untuk menegur sikap suaminya ini. Sejauh saya mengenal si teman tadi--walau beberapa bulan--tapi dia bukan orang yang ngeyel untuk dinasehati. Bukankah, harusnya dia bisa sabar menghadapi istrinya? Karena memilih istri yang sebelumnya belum berjilbab (lalu berjilbab kemudian ikut kajian) itu bukan perkara mudah. 



Karena si suami dalam mode marah, saya hanya berusaha mencairkan ketegangan diantara mereka. Saya sebetulnya nggak terlalu kenal dengan suaminya ini. Hanya sebatas tahu. Tapi tetap nekat bilang, "Santai aja, Bro!" Entah berapa kali saya mengulang kalimat itu, sembari menyisipkan nasehat untuk menghadapi masalah dengan kepala dingin dan memintanya memahami istrinya.

Terus terang, saya salut dengan suami yang meminta istrinya untuk berada di rumah, fokus mengurus keluarga. Tapi saya jauh lebih salut lagi dengan suami yang mendukung istrinya untuk terus produktif meski berada di rumah. 

Berada di rumah, jarang kemana-mana dengan rutinitas yang itu-itu saja bukan soal yang mudah dijalani. Apalagi bagi mereka yang sebelumnya aktif di luar rumah itu bukan hal yang gampang dilakoni. Entah berapa orang yang mengeluh bosan di rumah kepada saya. Lebih-lebih jika dia juga disibukkan dengan mengurus bocil-bocil super aktif. Selain merasa jenuh, mungkin dia juga merasa lelah. 

Terus produktif tak harus yang menghasilkan uang. Suami kudu jeli dengan passion istri. Setelah tahu apa minat istri, dukung dia, berilah ruang waktu kepadanya, fasilitasi, syukur-syukur carikan pasar jika minatnya adalah berdagang. 

Saya suka sekali dengan nasehat seorang suami dari salah satu teman saya, "Kamu merintis karir di rumah saja ya." Suami yang model begini itu suit kebangetan lho. πŸ˜„

Atau hanya sekadar membiarkan istri melakukan hobinya saja, itu sudah dalam bentuk mendukung istri untuk tetap produktif. Misalnya hobi dia membaca. Ya, berilah kelonggaran waktu untuk dirinya membaca. Pas suami tidak ada kegiatan, ambil alih sebentar untuk momong anak-anak lalu membiarkan istrinya merampungkan bacaannya biar pikirannya enteng. Sesekali mengajaknya ke toko buku atau pameran buku untuk membeli buku atau memberikan rak buku juga termasuk salah satu dukungan suami agar istri terus bisa produktif. 

Syukur-syukur apa yang diminati atau hobi istri itu bisa menghasilkan uang, tentu lebih baik lagi. Pun begitu, istri juga harus tetap tahu kondisi dan waktu. Jangan sampai keluarganya justru dinomorduakan, meski masih berada di rumah.

Bagaimanapun, istri tidak selamanya bergantung dengan suaminya. Suatu saat, entah kapan, maut akan memisahkan. Atau boleh jadi suami diuji sakit yang membuatnya tak lagi bisa menafkahi keluarga. Jika istri hanya berada di rumah, urusannya hanya seputar rumah tangga, mungkin dia akan sangat kesulitan ketika ia tiba-tiba harus mengambil alih untuk menopang ekonomi keluarga.

Saya sedih sekali ketika tak sedikit suami yang menganggap bahwa mengurus tetek bengek rumah tangga itu adalah kewajiban istri. Bahkan ada yang bilang, itu adalah kodratnya. Saya pernah menulis status berjudul Suami Ganteng Maksimal, sebutan saya untuk para suami yang mau membantu tugas rumah tangga istrinya. Waktu itu ada yang komen kira-kira begini, "Kenapa sih istri harus manja? Itu kan sudah kodratnya dia, kenapa dia harus mengeluh hingga minta bantuan suami?" 

Fix, suami model begini yang bisa membuat para istri mendadak horor sama suaminya. Saya nggak bisa bayangin kalo pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci baju, piring, nyapu, ngepel, nyetrika dsb dilakukannya seorang diri padahal dia juga sudah disibukkan dengan mengurus anak-anaknya yang aktif luar biasa, tanpa bantuan ART apalagi suami karena menganggap itu sudah kewajiban istri. Bisa keriting otaknya dia, Pak. Padahal otaknya udah keriting dari sononya, mau keriting yang kek gimana lagi? Mbundhel? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Memberi kesempatan me time kepada istri juga salah satu bentuk dukungan suami agar istrinya tetap produktif. Dari me time, dia pasti akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Kayak saya yang bisa nulis status sepanjang ini, juga salah satu buah dari me time lho. Semoga mau dibaca sampai akhir ya. Etdah, panjang amir, Mak? πŸ˜„

*tulisan ini sudah saya lempar duluan ke media sosial :)

Selasa, 11 April 2017




Beberapa waktu lalu, ada status teman yang membuat saya jadi stalker dadakan. Saya penasaran siapa yang dimaksud. Saya langsung utak-utik keyword di google. Di pencarian ketiga baru ketemu berita yang lagi viral itu. Lalu saya buka IG, stalking akun IG-nya. Sayang sekali, akunnya diprivate. Untung saya sudah tahu gambaran ceritanya.

Seriusan, sebagai seorang wanita dan juga ibu, saya pingin lemparin wajan penuh angus ke muka si laki dan si perempuannya. Oh, ganas ya? Terus bagusnya diapain? Didoain biar mereka segera bersatu, cepetan nikah ketimbang zinah di belakang istri gitu? Hm, saran yang bagus juga. Kan jodohnya laki keji dengan wanita keji, laki zinah dengan wanita zinah. Sama wanita baik-baik? Jelas nggak level lah. QS An-Nuur ayat 26 udah jelas menunjukkan betapa golongan mereka ini bukanlah orang yang pantas bersanding dengan laki-laki atau wanita baik-baik. 

Kalo entar mereka sampai bersatu, tinggal tunggu prahara apa yang menanti setelahnya. Jedeeeerrrrr! Mak plethakkkk! Klonthanggg! Duarrrrrr! Thok thok bethok! #ikiSuoroOpoThoMak

Yang jelas, jangan dipikir, pasangan dari perselingkuhan itu hidupnya akan bahagia. No no no, big no! Dalam mimpi lo emang iya. Elo-elo itu cuman dikibulin syaitan. Ketipu sampeyan.

Golongan pelakor (pengganggu laki orang) itu hanyalah gulma. Gulma tahu? Tanaman pengganggu yang kehadirannya harus dibabat karena menganggu tanaman yang dibudidayakan. Sejenis rerumputan, teki dsb. Udah tahu jenis pengganggu begini, bukannya dibasmi, eh malah dikembangbiakan. Tunggu saja akibatnya.

Berkali-kali saya bilang, kalo ada yang sampai terlena dengan hijaunya rumput tetangga, berarti dia sejenis kebo, sapi atau embek, karena hanya merekalah yang doyan makan rumput. Manusia waras nggak akan sudi makan rumput. Camkan itu!

Apalah enaknya memilih hidup bersama gulma? Mereka akan nuntut asupan nutrisi tinggi dengan memberi pupuk yang berkualitas dan perawatan kelas wakhid agar daunnya kelihatan lebih hijau we o we, sedang mereka tak akan menghasilkan apapun. 

Tuntutan mereka itu tinggi. Jangan harap mereka akan ngertiin keadaan lo sebagaimana istri lo dulu. Mereka hanya keliatan indah di awal, seolah-olah baik, begitu bersama? Yang ada, elo cuman diporotin terus, Mas Bray. Lama-lama jadi DPL entar, Derita Pikiran eLo. Bisa seteres sampeyan! 

Ini kisah si Pulano. Dulu dia sering diminta suaminya si Fulanling untuk nyopirin mobilnya. Eh, ternyata di belakang, Pulano dan Fulanling ini suka telponan dan smsan. Sampai waktu itu istri Pulano tahu kalo dia ada main sama Fulanling. Saking sakit hatinya, istrinya sampai jatuh sakit hingga tak lama kemudian dia meninggal dunia.

Suaminya Fulanling yang sakit-sakitan lama, akhirnya meninggal juga. Bersatulah Pulano dan Fulanling. Bahagia? Baru beberapa bulan nikah, uban Pulano langsung tumbuh disana-sini. Mukanya dia juga kelihatan lebih tua dari umur aslinya. Bahkan dia sampai bilang menyesal dengan perbuatannya. Andai dapat memutar kembali, dia ingin bersama istrinya yang dulu. Lah, gimana enggak? Orang Fulanling nuntut materi terus.

Ini nyata, bukan fiktif belaka. Fulanling yang kayak beling ini sebetulnya juga selingkuh sama suami tetangganya. Pulanonya saja yang nggak tahu. Double ketipu kan dia. 

Pelakor sudah jelas bukan wanita baik-baik. Jika dia memang baik, dia tidak akan mungkin mengganggu kehidupan rumah tangga orang lain. Dia akan menjaga diri dan hatinya agar tidak terjerumus ke jurang syaitan. 

Ini kisahnya si Fulanika. Fulanika menyukai seorang pria beristri. Awalnya Fulanika tidak tahu jika pria tersebut sudah menikah. Dia hanya menyukai dalam diam. Karena dia wanita baik-baik, dia tidak ingin menyakiti istri dan anak-anaknya. Dia justru jauh lebih menyayangi anak istrinya yang belum pernah bertemu tatap. 

Fulanika dengan suaminya ini bukan rekan kerja yang berada di tempat kerja yang sama. Mereka hanya terlibat pekerjaan yang sama karena diminta oleh kantornya. Kalau boleh saya menilai, dari sikap suaminya itu sepertinya dia ada rasa dengan Fulanika. Mereka ini tidak selingkuh, karena mereka sama-sama bisa menjaga diri. Pesan-pesan mereka hanya sebatas pekerjaan. Walaupun, menurut saya, ada bau-bau modus dari suaminya ini.



Karena menyayangi anak istrinya, Fulanika memilih menjauh. Dalam curahan hatinya waktu itu, dia tetap mendoakan semoga suami itu bisa menjaga anak istrinya dari azab neraka sehingga mereka semua bisa berkumpul di syurga Allah. "Kalau aku terlena dengan syaitan, mungkin aku bahagia jika dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi tidak. Jika istrinya tahu, itu sangat menyakiti hatinya. Semoga aku hanya sekadar ke-GR-an dari sikap baiknya."

Saya berharap ada banyak Fulanika-Fulanika lain di luar sana. Buat para suami, plis ya jaga diri, jaga hati selama kalian bekerja di luar sana. Batasi pergaulan dengan yang lawan jenis. Iman kalian harus terus ternanam kuat-kuat. Saya tahu, suami ganteng, mapan apalagi family man itu yang ngegodain banyak. Matanya pelakor pasti pada ijo ngelihat kalian. Mohonlah perlindungan dari Allah. Semoga kalian terjaga dari jalan-jalan yang menyesatkan.

Bagi para istri, ada baiknya introspeksi diri. Mungkin ada sikap kita yang nyebelin, ngeselin bin jengkelin yang membuat suami jenuh dengan istrinya. Di saat begini, ketika pelakor cantik ambil posisi, mengerahkan perhatian, kasih dan sayang (walau semu), bisa jadi suami akan goyah juga. Seperti yang sudah saya ceritakan pada status saya tentang lingkungan kantor yang riskan terjadi perselingkuhan waktu itu. Semoga kita semua terjaga dan dilindungi Allah. 

*Nulis ini dengan bumbu emosi jiwa 😑😬😠 Sori nggak ada ikon senyum. πŸ™…

*tulisan ini sebelumnya sudah saya lempar dulu di media sosial, biar menjangkau banyak orang yang mau baca. :D

Senin, 20 Maret 2017



Apa perasaan ibu jika anaknya baru bisa jalan di usianya yang sudah melewati umur 16 bulan? Bahkan teman sebayanya sudah bisa berlari kecil, sementara anak kita masih rambatan atau kadang sesekali merangkak? 

Oke, bagi ibu yang paham ilmu--biarpun si kecil sudah berumur 16 bulan tapi belum kunjung berjalan--tidak akan menjadi soal. Karena tahap perkembangan anak bisa berjalan itu normalnya dari umur 12 - 18 bulan. Termasuk saya juga tenang-tenang saja meski tetap berusaha saya stimulus karena saya pernah baca artikel ang menjelaskan bahwa anak umur 15 - 18 bulan yang belum bisa berjalan itu masih dikatakan normal namun kurang optimal, karena kemampuan motorik kasar dan kemampuan keseimbangannya kurang begitu baik. Pada anak seperti ini perlu intervensi atau stimulus ringan agar perkembangan motorik dan vestibularis (keseimbangan) lebih baik.

Bagaimanapun milestone setiap anak itu berbeda-beda. Tidak pas saja kalau ada ibu atau neneknya membanding-bandingkan dengan anak atau cucunya karena lebih dulu bisa berjalan bahkan sebelum genap umur 1 tahun.


Saya harus mengungkap apa yang saya alami saat anak kedua saya (cowok) harus dibanding-bandingkan dengan anak saudara atau tetangga yang milestone-nya lebih cepat ketimbang putra saya. Andai saya bersumbu pendek, mungkin akan langsung meledak. Atau minimal saya baperan, lalu sakit hati kemudian sampai kurang percaya diri ngajak anak halan-halan cantik di luar rumah. Untungnya saya santai saja menghadapi komentar-komentar mereka.

Jujur, mulanya saya juga sedikit tersinggung saat mereka keheranan lalu mencoba membandingkan atau berkomentar yang tidak mengenakan sampai ada yang nyaranin untuk diterapi. Tapi saya memilih tidak memasukkannya sampai ke hati. Ini demi kebaikan saya sebagai ibu dan juga anak saya. Bagaimanapun seorang ibu harus kuat agar anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang tangguh nantinya.

Saya baik sangka saja. Barangkali itu bentuk perhatian mereka, walaupun sejujurnya kalau diambil hati memang kadang ada yang nyakitin juga. Hihihi.

Saya mencoba berpikir positif. Saya juga tidak mau menduga-duga ketika ada segerombolan ibu berbisik-bisik mengomentari anak lelaki saya yang kala itu masih merangkak, padahal teman sebayanya sudah bisa berjalan sejak lama. Entah apa yang mereka katakan, saya tidak ingin menajamkan indera pendengaran saya untuk tahu lebih lanjut.

Ternyata sikap seperti ini sangat membantu sekali agar kita tidak mudah baper dengan komentar mereka. Beruntunglah saya dianugerahi suami yang selalu siap sedia menjadi pendengar dari setiap curcolan saya. Bukannya spaneng, kita malah jadikan komentar mereka untuk bahan guyonan. :D



Saya harus paham dengan tipikal orang-orang yang senang berkomentar tak tahu tempat ini. Ya, orang-orang seperti ini memang hobinya nyinyirin orang, mau gimanapun kondisi kita.

Dulu, si kakak yang sudah bisa berjalan di usianya yang baru menginjak 11 bulan saja juga tak luput dari hadangan komentar orang. Karena perkembangan motorik kasarnya yang lebih dominan, kemampuan berbicaranya jadi sedikit lebih lambat dari teman seusianya. Sebetulnya jika bersama saya, ada beberapa kata yang bisa dia ucap. Namun saat bersama teman-temannya, bahasa yang digunakan kebanyakan bahasa planet. Karena inilah, saya sering dituduh kalau saya tidak pernah ngajakin ngomong anaknya. Olala. Masa' iya punya mulut mingkem mulu? Padahal saya tergolong emak cerewet lho. :D

Ah, ya sudahlah. Tidak akan ada habisnya jika kita mendengarkan komentar mereka yang tidak paham keadaan ini. Yang ada justru malah makin bikin hati jadi gondok. Iya kan?

Ketika saya bisa santai, berpikir positif dan tidak mudah baperan, ternyata tanpa terasa anak saya pada akhirnya bisa berjalan sendiri di usia 16 bulan 21 hari. Alhamdulillah.

Agak sedikit lama memang. Tapi hikmahnya, saya merasa anak saya masih kayak bayi karena kalau pergi keluar rumah terpaksa harus digendong. Ya, walau lumayan pegal juga sih. Tapi kalau kita nyantai, dijalaninya ya oke-oke saja. :D

Selasa, 07 Februari 2017




Emang nggak enak ya jadi orang moody-an. Inilah yang terjadi pada saya beberapa waktu ini. Yep, saya mendadak terserang virus 'nggak mood' blogging entah karena alasan apa. Apa ada orang di luar sana yang kayak saya? Semoga saja tidak. Saya tidak berharap ada orang mendadak malas nge-blog tanpa alasan yang jelas. Hihihi.

Karena merasa nggak mood, saya memutuskan untuk rehat sebentar dari dunia perbloggingan. Hanya sebentar. Tapi yang terjadi malah terlalu kepanjangan. Bahkan di tahun 2017 ini saja, saya baru menulis tulisan nggak penting sarat curcolan nggak jelas macam ini.

Kenapa jadi malas blogging? Apa karena kekurangan ide? Hadeh, justru di otak saya sudah ngantre bejibun ide yang pingin dikeluarin tapi nggak kunjung dieksekusi. 

Selama satu setengah bulan ini, saya hampir nggak pernah ngintipin blog. Jangankan update blogpost, sekadar blogwalking pun saya malas.

Baca juga : Blogger yang Aneh

Pun begitu, ada rasa kerinduan yang membuncah ketika saya meliburkan diri dari dunia perbloggingan beberapa waktu. Saya rindu pada mereka, teman-teman blogger, meskipun hingga kini tak banyak yang saya kenal. Tapi jujur, saya rindu memberikan komentar saya untuk blogpost mereka sebagai bentuk silaturahim dan apresiasi dari tulisan mereka. Rasanya saya jadi enggan blogwalking jika blog saya sendiri nggak update. Ngerasa nggak enak saja kalau dia sampai berkunjung balik ke blog saya yang blogpost terakhirnya sudah kadaluarsa. Hahaha.

Semoga tulisan ini mengembalikan semangat saya untuk aktif ngeblog lagi. Hingga kini, saya memang belum berencana untuk monetize blog. Makanya, saya masih setia pakai blog gratisan. Saya merasa belum yakin bisa memberdayakan blog jika saya orangnya moody-an banget kayak gini. Ya, dijalani nyantai sajalah. Jangan terlalu terbebani. Nanti ndak malah tambah malas lagi untuk ngeblog. Iya kan? Iya kan?

Udah ah. Segini saja curcol gaje dari saya. Berharap tulisan ini jadi mood booster saya untuk segera update blog lagi. Semangkaaaaaaaa! :D

Sabtu, 24 Desember 2016

Inilah 15 kesalahan yang sering dilakukan orangtua pada anaknya :

1. Bohong


Entah sudah kali berapa ketika saya mendapati ibu-ibu yang menakuti anaknya dengan berbohong.

"Adik, jangan ke situ. Di situ ada tikus lho. Tuh, ada tikus!" Padahal nggak ada tikusnya.

Ketika jajan minta sesuatu. "Jangan beli yang itu. Itu makanan beracun." Padahal? Bakalan kena sidak kalau ada pedagang jual makanan yang mengandung racun.

Mungkin mikirnya anak sekecil itu belum paham seandainya kita terangkan pada mereka sejujurnya.
Padahal eh padahal, mereka anak yang pintar dan kritis lho, Bun. :)

2. Janji Palsu

Anak nangis minta dibeliin sepatu kayak punya temannya. "Iya. Besok ibu beliin kalau kita ke mall. Yang lebih bagus malah."

Pas ke mall, anak nagih, nggak dibeliin. Padahal janji tetaplah janji. Kan, janjinya kalau ke mall bakalan dibeliin sepatu yang lebih bagus dari temannya. Ayo, Nak, tagih terus janjinya! :p

Kalau memang tidak sanggup menepati, ya jangan menebar janji. Jangan dikira mereka nggak bisa kita ajak negosiasi. Bisa kok, Bun. Mungkin kitanya yang nggak sabaran menghadapi ketantruman mereka. Atau kita terlanjur melabeli mereka sebagai anak yang sulit diberi pengertian.


3. Labelling

Ini juga yang sering dilakukan para orangtua. Saat kita lelah, kita bisa saja nyeplos melabeli anak dengan sebutan buruk.

"Kamu tuh ngeyelan."

"Anak nakal!"

Bahkan...

"Bodoh..."

Ah... Jaga mulut, jaga mulut, jaga mulut. Plester mana plester?

4. Tidak menghargai yang dilakukan anak

Saat anak ingin mandi sendiri. "Biar ibu yang mandiin, nanti ndak bersih."

Saat anak ingin pakai baju sendiri. "Biar ibu yang pakaiin. Kamu nggak bisa."

Saat anak ingin makan sendiri. "Biar ibu yang suapin. Nanti lantai kotor."

Saat anak diam-diam sisiran sendiri, terus ditunjukin ke ibunya kalau dia bisa sisiran sendiri. "Apaan? Rambut masih awul-awulan gitu. Sini ibu sisiran lagi."

Dia butuh diberi kesempatan, Bun. Dia juga ingin dihargai. Dia sungguh menanti pujian dari orangtuanya. Dan betapa bahagianya jika kedua orangtuanya terus menyemangatinya. :)

5. Mengancam

Saat anak tidak patuh, orangtua biasa main ancam.

"Kak, cepat mandi!"

"Entar dulu." Masih asyik main gadget.

"Buruan mandi. Kalau enggak, mama bakalan buang HP-nya ke kloset. Kakak nggak bisa main HP lagi, gimana? Mau?" Gertaknya.

"Iya. Entar. Dua menit lagi."

"Mama hitung sampai lima. Lebih dari hitungan ke lima belum ke kamar mandi, mama bakalan buang HP-nya ke kloset. Satu, dua, tiga..." Sudah lebih dari hitungan kelima, anak belum beranjak. HP-nya beneran dibuang ke kloset? Eman-eman lah.  Tuh, kan? Pakai ngancem nggak tahunya malah bohong?

6. Nyalahin benda mati yang nggak tahu apa-apa

Anak jatuh ke lantai. Nangis. Ibunya sok ngintrogasi pelakunya. "Duh, sakit ya? Siapa yang nakalin? Ini ya?" Sambil nunjuk lantai, lalu sok main toyor ke lantai. "Uhh, nakal ya."

Anak kejedot tembok. Nangis. Lagi-lagi si tembok yang nggak tahu apa-apa kena timpuk tangan emaknya.

Ah, kenapa nggak ditonjok sekalian, Bun? Tonjok betulan ya, jangan akting. Biar greget.

Apaan letoy gitu? Kurang keras. Lagi! Lebih keras! :p

7. Baby talk

Ini yang ngajarin siapa, yang diajarin juga siapa. Kenyataannya kebalik kan? Ortu kalau ngajakin ngomong ke bayi kebanyakan pakai gaya bicara ala-ala bayi. Dicadel-cadelin. Dimonyong-monyongin. Terutama simbah nih. Herannya, ibunya yang suka nganggep aneh, lha kok keceplosan niru pakai logat baby talk juga.

Mungkin inilah awal mula bahasa alay muncul kali ya? :p

8. Bawaannya amnesia kalau ngeliling bayinya

"Ini ciapa cih?" Udah baby talk, masih nanya siapa ke anak yang dilahirinnya. Amnesia? :p

"Ciapa cih? Adek Cipa ya?" Udah tahu anaknya namanya Shifa, eee...lha kok dicipa-cipain. Pantas saja kalau besar nanti, dia nggak bangga punya nama Shifa. Maunya dipanggil Shivanili. Dan bawaannya suka 'amnesia' kalau pas jalan sama teman, nggak sengaja ketemu emaknya yang jualan cireng keliling.

9. Main tuduh

"Dek, sisir Mama kamu taruh dimana?" Sambil nyari ke meja rias. "Kamu sih, apa-apa buat mainan. Bedak Mama buat mainan. Deodoran. Lipstik. Apalagi?" Ngomelnya sudah kemana-mana.

"Hadehhh...dimana sih? Kamu taruh ke mana sih, Dek?" masih sambil nyari sisir. Padahal ada di kasur. Tadi mau sisiran, nggak jadi karena ada telepon. Yang naruh? Ya, emaknya. Dan anaknya yang jadi tersangka. Gini saja, suka gengsi kalau harus ngaku dirinya yang teledor naruh sisir. Apalagi minta maaf.

10. Biar anteng, dipegangin gadget, ditontonin tipi

Padahal gadget dan televisi sesungguhnya si perusak mental anak kalau tidak didampingi dan dibatasi. Misal sudah dipilihin acara yang mendidik dan aman untuk usianya atau gadgetnya pun aplikasinya memang adanya yang edukatif, kalau berlebihan kan nggak bagus. Kreativitas anak kurang, mungkin bisa speech delay (untuk anak usia batita), kontrol emosi rendah, bahkan jika sampai kecanduan.

11. Menanamkan belief yang salah

Pernah pas ada anak kecil, keponakan saya nangis karena tabrakan sama cucu seorang nenek. Si neneknya berusaha menenangkan dengan menakut-nakuti hal yang jadinya malah fatal.

"Udah diem. Nanti kalau nangis, puasanya batal lho." Duh, anak kan bisa memahami hal yang salah, kalau nangis bisa membatalkan puasa. Padahal kan enggak.

"Bener kan Mbak?" Tahu saya lewat, si nenek nyari orang buat meyakinkan apa yang dia bilang.

"Ohhh....enggak kok. Nangis nggak batalin puasa." Hahaha, batinnya mungkin sepet banget kali ya. Ada orang yang berani nyangkal, apalagi si nenek jadi mati kutu di depan cucu dan anak tetangganya.

12. Nggak sabaran ngadepin tangis anak

Tangis adalah cara anak kecil meluapkan emosinya saat keinginannya tidak terpenuhi. Tangis akan jadi senjata jika tiap apa yang dia mau, lalu nangis, langsung dituruti. Padahal kan enggak semua harus dituruti. Kalau toh dituruti, nggak harus hari ini juga. Maka penting sekali bagi orangtua untuk melatih si kecil mengontrol emosi, ajari anak menunggu dan berikan pengertian saat yang dia mau tidak (belum) bisa dituruti.



13. Overprotektif

"Dek, jangan main ke situ, nanti jatuh."

"Dek, jangan pegang itu nanti kotor."

"Awas, jangan mainan kayu nanti keculek (kena mata)."

"Dek, nanti kejedot. Dek, nanti kegunting. Dek, nanti kepleset. Dek..."

Ini salah, itu salah. Ini nggak boleh, itu juga nggak boleh. Batin anaknya, "Terus aku kudu piye?"

14. Nggak ngasih kesempatan anak untuk menyelesaikan masalah sendiri

Saat ada PR di sekolah, anak nggak bisa ngerjain, ibunya yang nyelesain. Sampai-sampai tiap ada PR, selalu ayah ibunya yang ngerjain. Buat orangtua, lebih baik PR betul semua, anak nggak dimarahin, ketimbang soal ada yang salah dan nanti kena ejek temannya.

Pas anaknya dicuekin saat main sama temannya saja sudah tersinggung. Langsung jemput anaknya. "Lain kali nggak usah main sama dia. Toh, kamu cuman dicuekin gitu." Dicuekin saja reaksinya begini, apalagi kalau kena bully?

15. Selalu merasa benar

Orangtua bisa saja salah atau keliru. Namanya juga manusia. Kalau tahu salah, biasanya dia masih bisa ngeles. Mikirnya masih anak-anak. Padahal kan anak-anak kan kritis-kritis. Hihihi.

Pinter nasihatin, tapi dilanggar sendiri. "Jangan nonton tipi, waktunya belajar." Mereka malah tetap nonton tipi tapi nyuruh anaknya belajar.

Pas anaknya pulang dari main di kebun langsung dimarahin habis-habisan. Saat tahu anaknya bawa sarang lebah, amarahnya makim menjadi-jadi. "Kayak gitu dibawa pulang, entar kamu disengat lebah gimana?"

"Lebahnya nggak ada kok, Pak. Ini enak. Coba bapak rasain."

Pas dirasain. "Oh, enak ternyata." (Ini nggak ngayal lho. Yang ngalamin yang nulis sendiri).

Inilah BunYah kece, kesalahan yang sering kita lakukan dalam mengasuh anak-anak kita ternyata luar biasa banyak. Kalau diterusin lagi mungkin udah kayak oloran kabel. So, BunYah, mari kita introspeksi. Terus belajar. Dan perbaiki diri. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang mampu membentuk generasi shaleh/ah sehingga tidak timbul penyesalan di kemudian hari. Tidak ada kata terlambat untuk berubah. Lakukan semaksimalnya, dan mulailah dari sekarang. :)

*tulisan ini sudah saya lempar duluan di facebook. Biar bisa dibaca setiap saat, saya posting juga disini. :)

Senin, 12 Desember 2016




"Siapa ini yang jual?" tanya saya pada seorang anak laki-laki bertubuh mungil, 8 tahun, yang duduk di kursi berwarna putih di sebelah meja untuk jualan bakso bakar, sore itu. Saya tanya begitu karena saya pikir ada ayah atau kakaknya yang jualan. Dia hanya sekadar menunggu, pikir saya.

"Aku." jawabnya sambil berdiri. 

"Oh, kamu yang bakar sendiri?"

"Iya. Mau beli berapa?" tanyanya sembari mengibas-ngibas kipas agar arang kembali memerah. 

"Beli 5 ribu ya."

"Iya. Tunggu sebentar ya. Duduk dulu disini." Tangan mungilnya sigap menggeser kursi putih yang tadi didudukinya untuk didekatkan kepada saya.

"Emang ayah kamu kemana?" tanya saya setelah duduk sembari memangku si kakak yang ikut serta. 

"Lagi istirahat di rumah." Ya, saya tahu, ayahnya ini seharian jualan bakso bakar keliling dari kampung ke kampung dengan motornya. Jika dagangan belum habis, mereka akan gelar lapak di pinggir jalan raya dekat rumah saya. Biasanya yang nunggu anak-anaknya. Dan yang paling rajin adalah anak laki-laki bertubuh mungil yang hingga sekarang saya belum tahu namanya. Ba'da Maghrib, ayahnya yang akan menggantikan.

Hari mulai gelap. Angin berhembus kencang. Tangan mungil itu dengan kekuatan prima terus mengipasi bakso bakar dengan kipas anyaman bambu ukuran besar. Sembari menunggu, ia menyiapkan bungkus dari kertas minyak yang sudah dibentuk mengerucut. 

"Kamu kelas berapa?" 

"Kelas tiga."

Bakso bakar sudah matang. Diangkatnya lima tusuk bakso bakar itu lalu dilumuri saos kacang tanpa saos cabe sesuai permintaan saya di awal. "Makasih ya." ucapnya mengulas senyum. 

Pas di rumah, bakso bakar hasil kipasannya lumayan juga. Untuk anak sekecil itu sudah luar biasa. Saya sedikit maklum meski ada satu tusuk yang agak gosong. Ada pula satu tusuk lain yang isi baksonya lepas satu. Mungkin pas dibolak-balik di tempat bakar tadi ada yang jatuh. 

***

Pernah terpikir? Ibu macam apa yang tega meninggalkan anak semandiri ini hanya karena cinta pertamanya hadir kembali dalam hidupnya? Bahkan, ada sembilan anak lain yang juga ditinggalkannya? Anak terkecilnya malah, ketika ditinggalkan, masih usia batita (sekarang usianya sekitar 5-6 tahun).

Yang saya tidak habis pikir, kesepuluh anaknya sangat mandiri sekali. Mereka semua akrab. Jika orang tidak mengenal mereka, mungkin akan dikira teman sepermainan karena selisih usia berdekatan.



Saat siang hari, sepulang sekolah, mereka akan menjemput neneknya yang berjualan di pasar. Menjemput bergantian. Kadang kakak perempuan yang sudah remaja. Kadang berdua dengan kakak laki-lakinya yang entah nomor berapa. 

Sore hari, kakak perempuan yang sudah SMP naik motor dengan membawa bronjong berisi barang dagangan bakso bakar untuk dijajakan di pinggir jalan raya Sragen - Ngawi. Mereka sering berjualan bertiga. Terkadang hanya salah satunya.

Pernah satu ketika karena langit terlihat mendung, ia dan kakak laki-lakinya (yang sepertinya hanya selisih 2 tahun), terpaksa mengemasi barang dagangannya. Saya yang hendak membeli bakso bakar hanya bisa menelan ludah saat melihat mereka berdua berjalan kaki membawa tas berisikan bakso bakar ke arah jalan kampung. Manik mata saya terus mengamati mereka. Terutama anak laki-laki mungil itu.

Saya terpana. Tangan mungilnya tampak keberatan menenteng tas anyaman warna biru muda itu. Sesekali ia letakkan di jalan, istirahat. Lalu ganti tangan kirinya. Kakak laki-lakinya yang tubuhnya tidak sekurus adiknya, sigap menenteng satu tas anyaman dan satu box ukuran sedang.

Ah...lagi-lagi saya tak kuasa membayangkan, ibu macam apa yang sampai hati meninggalkan mereka yang bagi saya, sangat luar biasa. Meski saya tak mengenalnya, saat berpapasan di jalan, mereka--siapapun diantara mereka--akan menyapa saya atau sekadar melayangkan senyum. Kata tetangganya, mereka ini juga nrimo sekali dengan keadaan mereka. Apapun yang dimasak neneknya tetap lezat bagi mereka. Mereka akan menyantap makanan bagaimanapun lauknya. 


Sudah beberapa bulan ini mereka tak lagi jualan bakso bakar di pinggir jalan raya. Mungkin pasarannya kurang bagus. Padahal saya hanya beli bakso bakar milik ayahnya yang terjamin kehalalannya. 

Karena kurang laku, ayahnya kini berjualan bakso kuah keliling. Dalam hati saya berdoa, semoga dagangannya laku. Semoga Allah memberi kelancaran rezeki bagi mereka. Rezeki yang berkah karena ia harus menghidupi kesepuluh anaknya.

Anak pertamanya sudah lulus SMA. Mungkin usianya kini sudah 20 tahun. Entah kerja atau kuliah, saya kurang tahu pasti.

Semua anaknya ikut ayahnya. Dulunya mereka tinggal di Sumatra. Setelah ibunya lari dengan laki-laki lain--yang katanya cinta pertamanya--mereka pulang ke rumah neneknya di Sragen, Jawa Tengah, dekat tempat tinggal saya.



Ah, cinta pertama. Betapa banyak orang yang mudah terlena saat cinta pertama--yang dulu tak jodoh, hadir kembali dalam hidupnya.

Seperti si A, yang selingkuh dengan cinta pertamanya dan menjalani hubungan tanpa ikatan pernikahan. Bahkan si B, yang rela mendedikasikan rahimnya untuk dihuni janin hasil perzinaan dengan cinta pertamanya yang sudah menikah dengan yang lain. Katanya, untuk kenang-kenangan dan buah hatinya sebagai bukti cinta diantara mereka. Na'udzubillah min dzalik. Betapa cinta membutakan mereka. Cinta atas dasar nafsu. Cinta yang disisipi rayuan-rayuan syaitan. Dan mereka pun terlena hingga berbuat kemaksiatan.

Inilah mengapa cinta dalam pernikahan itu seharusnya tumbuh, bukan jatuh. Jika jatuh, maka benih cinta boleh jadi jatuh di tempat sembarangan. Mungkin ia tidak bisa tumbuh dan menjadi benih yang mengering. Mungkin juga bisa tumbuh, tapi tumbuh di lahan yang tidak tepat. Tanpa dirawat. Tumbuh sesukanya. Semaunya. Tidak ada aturan, kapan ia disiram, kapan ia dipupuk dsb. 

Lain jika pernikahan yang dijalani karena mengharap ridha Allah. Benih cinta akan tumbuh subur seiring perjalanan waktu karena terus dirawat dengan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Sekalipun awalnya tak saling mengenal (karena mereka bukan penganut pacaran sebelum menikah), tapi ini tak menjadi soal. Karena Allah akan tumbuhkan cinta dan kasih sayang diantara mereka sebagaimana firman Allah SWT yang artinya, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. Ar-Ruum 21)


Tanpa banyak kata, saya doakan, semoga anak-anak ini tumbuh menjadi anak yang shaleh dan shalehah. Mereka bisa menjaga akhlak mereka. Tetap berjiwa qana'ah. Teguh memegang prinsip. Dan tercapai cita-cita mereka. Amiin.

Sabtu, 03 Desember 2016




"Haduh, Bu. Anakku itu udah kuliah, kalau pulang ke rumah, cuman nyuci baju saja nggak mau. Semua yang ngerjain ibunya. Dia itu malasnya luar biasa, sampai aku kalau di rumah bawaannya cuman marah-marah." Curhat seorang ibu suatu ketika. Bukan ke saya, ke ibu yang seumuran dengannya. Hihihi.

Mungkin semenjak kecil, anaknya ini selalu dimanjain kali ya. Anak nggak pernah dilibatkan dalam beberapa tugas rumah tangga. Semua dikerjain ibunya. Tiap kali anaknya ingin terlibat di dalamnya, dia hanya dianggap sebagai tukang ngerecokin. Mungkin ibunya marah-marah ketika anaknya ikut bantuin. "Sana...sana! Entar kotor lagi!" 

Sama halnya dengan seorang ibu yang mengeluh jika anaknya yang sudah kuliah juga tidak mau bantu pekerjaan rumah tangga. Seringnya 'ngumpet' di kamar. Online. 

"Padahal aku udah nyontohin lho. Kok dia ini nggak mikir sampai ke situ?"

Yang saya tahu, ibu ini hanya sekadar memberi contoh saja. Tiap anaknya pulang sebulan sekali, ibunya akan berusaha memberi contoh dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga seperti nyuci baju, nyetrika, nyapu, ngepel, bersihin kamar mandi dsb. Semua dikerjakan sendiri tanpa melibatkan anaknya. Dari dulu seperti ini. Mikirnya sih, untuk memberi contoh. Padahal contoh saja tidak akan efektif jika tidak melibatkan anaknya. Ibu ini semasa anaknya masih kecil juga termasuk ibu yang cerewet tiap kali anaknya ingin terlibat dalam pekerjaan rumah tangga. Karena mikirnya, masih anak-anak, bukannya bantuin malah ngacak-ngacak.

Padahal justru dari kecillah mereka belajar arti membantu tugas ibunya saat menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Sebagai ibu, saya selalu melibatkan anak-anak dalam beberapa pekerjaan yang ringan. Meski melibatkan, saya tetap tidak akan memaksa jika mereka tidak mau. Tapi alhamdulillah, mereka justru suka cita saat bersama-sama mengerjakan pekerjaan rumah seperti menjemur pakaian, melipat baju, menyapu, menata barang dagangan dsb.


Si kakak, 3 tahun 11 bulan, karena dia ini tipe anak yang senang bergerak, dia justru senang sekali jika dilibatkan, bahkan saat ayahnya mengangkat minuman kardusan pun dia nekat pingin bantuin. Hihihi. Sedang si adik, 15 bulan, saya sudah melatihnya minimal dia bisa mengerjakan keperluannya sendiri. Misalnya sehabis mandi, saya minta si adik ambilin bedak, minyak telon atau sisir. Saat ke pasar pun, saya minta dia ambilin gendongan (karena dia belum bisa jalan :D) dan juga jilbab bundanya. Dia sangat senang sekali dilibatkan. Setelahnya saya akan puji dia, saya peluk dan kasih hadiah kecupan sayang. 


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Bunda ketika melibatkan si kecil dalam tugas rumah tangga.

1. Jangan memaksa


Ada anak penjual jajanan pasar, 5 tahun, dia sampai menangis karena ibunya terus memintanya mengangkat barang-barang dagangan. Peluh keringat menyembul memenuhi keningnya. Mungkin dia lelah. Mungkin juga dia belum sarapan. Orang-orang yang melihatnya merasa kasihan. Ketika ada yang mengingatkan agar anaknya istirahat dulu, ibunya malah marah. "Aku dulu juga digituin ibuku. Itu biasa," timpalnya sewot.

Kasihan kan kalau begini. Lagi pula, memaksa anak hanya akan membuatnya tertekan. Dia mau bantu hanya karena terpaksa, karena jika tidak dia akan kena marah. Akibatnya anak mau membantu bukan tumbuh dari hatinya. Saat besar nanti, bukan tidak mungkin dia akan jadi anak pemberontak karena terus disuruh ini itu oleh ibunya.

2. Tawarkan dulu apakah mau bantu atau tidak


Karena tidak memaksa, sebelum melibatkan, tawarkan dulu ke anak apakah dia mau bantu saat bundanya nyuci baju, ngelipat pakaian, memasak dsb. Misalnya saat saya hendak membuat cilok, camilan pesanan kakak. "Mau bantuin bunda nggak?" Kadang dia mau bantu, tapi kadang dia nggak mau karena mau main sama temannya. 


Dengan menawarkan terlebih dahulu akan melatih anak untuk mengungkapkan pilihannya. Anak juga akan merasa didengarkan keinginannya apakah dia mau bantu atau ingin bermain bersama teman-temannya. 


3. Buat aktivitas bantu-bantu jadi menyenangkan


Bagi anak saya, membantu bundanya mengerjakan tugas rumah tangga itu layaknya bermain seru. Saya berusaha menjadikannya semenyenangkan mungkin. Misalnya dengan membuat lelucon, sambil bernyanyi dsb. Biar seru kadang dibuat seperti estafet. Saat mengangkat barang dagangan yang ringan, adiknya ambilin barang (dengan intruksi dari saya), dilanjut bundanya, lalu kakaknya yang senang berjalan akan mengangkatnya ke etalase (natanya belakangan :D). 

4. Hargai usahanya


Ketika si kakak ikut bantuin jemur pakaian, meski nggak rapi tetap saya biarkan. Kecuali jika masih ada sela atau menumpuk baju yang dijemur, saya akan ingatkan jika sebaiknya yang sela diisi lagi dengan yang ditumpuk tadi.

Biar lipatan bajunya nggak rapi, saya tetap biarkan dan lebih memilih menghargai usahanya. Ini waktu kakak umur 3 tahun 2 bulan.
Saat dia mau bantuin ngelipat baju pun, saya tetap nggak nata lagi jika bentuknya sudah seperti lipatan. Toh yang dia lipat hanya baju atau celana adiknya atau dalamannya dia sendiri. Saya hanya perlu berdamai dengan hasil yang kurang rapi. :D


Dengan begini, dia merasa hasilnya dihargai bundanya. Jika memang hasilnya masih acak-acakan, baru saya perbaiki lagi sambil kasih tahu jika caranya yang benar begini tanpa mencerca usahanya. 


5. Ucapkan terima kasih dan beri pujian


Setelah dia bisa menyelesaikannya, saya akan ucapkan terima kasih karena sudah dibantu. Lalu saya puji dia.

"Wah, kakak pintar." puji saya ketika dia mau mengambilkan gula merah di tempat utinya (ceritanya minta gula merah karena lupa nggak beli di pasar :p)

"Kakak baik!" puji saya ketika dia dengan tanggap tanpa diminta saat tahu adiknya haus, dia sudah ambilin air minum di kulkas. 

Atau...

"Kakak hebat!" puji saya saat dia berhasil menata baju di lemarinya.

Setelah memujinya saya akan peluk dia sambil memberi sun sayang kepadanya. Hanya dapat pujian, pelukan dan sun sayang saja dia sudah bahagia sekali. Dia merasa dihargai usahanya. Dan merasa diandalkan.

Dengan sikap diatas, insyaAllah anak akan suka cita ketika dilibatkan dalam beberapa pekerjaan rumah tangga. Bahkan tanpa diminta pun dia sudah tanggap untuk membantu bundanya. Setidaknya bakat ngerecokin ala anak-anak bisa kita arahkan untuk membantu pekerjaan kita. Ya, meskipun hasilnya terkadang malah acak-acakan, tidak apa-apa. Kita hanya perlu berdamai saja dengan hasil yang kurang atau bahkan tidak sempurna. Semoga dengan melibatkan mereka dalam beberapa tugas rumah tangga sedari kecil akan menjadi kebiasaan saat mereka besar nanti. :)

Senin, 21 November 2016


Siaran di box siar. Foto kiriman teman, karena foto siaran saya hilang semua gegara laptop minta diformat ulang sementara data belum sempat di-back up. :D

Mungkin banyak yang pingin jadi penyiar radio? Hihihi. Iya, profesi ini memang banyak diimpikan sebagian orang. Biar sering dianggap sebagai pekerjaan nggak jelas, batu loncatan atau bahkan gajinya cuman kecil tapi nggak dipungkiri kalau peminatnya lumayan banyak juga.

Terbukti saat stasiun radio tempat saya bekerja dulu, tiap kali membuka lowongan penyiar, pasti yang daftar segambreng. Sebelum siaran di radio dakwah di Solo, saya pernah juga melamar jadi penyiar di radio jaringan di kota lahir saya, Sragen, yang daftar pun juga puluhan. Padahal cuman diterima 2 penyiar doang. Hahaha. Bahkan sekelas radio kampus pun yang daftar juga banyak. 

Kenapa banyak orang kepingin jadi penyiar radio? Padahal kalau dilihat berapa gajinya mungkin tidak begitu besar dan bahkan tidak menentu karena hanya dihitung per jam siaran selama sebulan (beberapa stasiun radio punya kebijakan masing-masing. Kalau di radio saya, semua penyiar asal bukan penyiar trainee fee per jam-nya disamaratakan. Bedanya, tidak setiap penyiar punya jam mengudara sama. Ada yang jam on air-nya tinggi, ada pula yang siaran cuman 16 jam sebulan saja. Nah, yang jam siarnya sedikit inilah yang gajinya cuman sak umplik :D). 

Lalu kenapa peminatnya banyak? Beberapa alasan ini mungkin yang menjadikan profesi sebagai penyiar radio itu diminati banyak orang.

1. Eksis


Siapa sih yang nggak kepingin dikenal banyak orang? Mungkin hanya orang-orang introvert yang nggak ingin dikenal banyak orang (xixixi, bener nggak sih? :D). Paling enggak, nama kita dikenal seantero komplek lah. Heuheu.

Dan menjadi penyiar radio adalah salah satu cara agar kita dikenal banyak orang. Bahkan sekelas radio kampus yang siarannya hanya menjangkau hingga 5 km pun nyatanya bikin penyiarnya punya banyak fans. :D

Dulu ketika saya daftar jadi penyiar di radio kampus di Faperta UNS, saya tak menyangka jika nasib saya benar-benar berubah. Awal daftar sebetulnya hanya untuk melatih public speaking agar saya tidak grogi saat berbicara di depan. Tapi setelah beberapa waktu siaran, saya mulai menyukai bidang ini. Saya tak menampik jika saya saat itu juga sedikit keblinger dengan virus mendadak eksis.

Ya, saya yang hanya mahasiswi polos, pasif organisasi, anak rumahan, dan tidak banyak dikenal orang, tetiba berubah menjadi serasa 'artis'. Jika saya tidak siaran, pendengar yang rata-rata mahasiswa dan anak sekolahan, pada nyariin saya. Handphone saya yang tadinya sepi telpon dan sms (dulu belum ada WA, hahaha udah tua ya saya :D), tetiba mendadak jadi ramai. Bahkan saat tengah malam pun ada saja orang iseng yang main miss called. Fuihhhh...

Apalagi ketika saya siaran di radio dakwah di kota Solo. Nasib saya banyak yang berubah. 

Dulu, saat saya jalan berdua dengan teman saya, yang disapa pasti hanya dia seorang. Saya dicuekin. Padahal pernah sekelas. Hahaha.

Dulu, ketika teman-teman sekampus yang berasal dari SMA yang sama, jika ada kegiatan mereka diberitahu. Saya? Nggak pernah dikabari. Bahahaha.

Ngenes? Enggak. Saya tahu diri kalau (saat itu) saya memang nggak dikenal oleh banyak orang. Ohokohok.

Tapi, setelah saya jadi penyiar radio, mereka yang tadinya cuek dengan saya, kalau saya jalan, minimal senyum terulum dari bibir mereka. 

Teman-teman SMA yang saya pikir nggak tahu saya, eh ternyata mereka pada tahu saya. Saat saya beli aksesoris komputer, eh pemilik tokonya juga tahu saya. Saat saya angkat telpon di kantor majalah--tempat kerja saya yang lain, si penelpon langsung tahu saya. Bahkan saat saya mengenalkan diri hanya menyebut nama Isna, orang di seberang sms sana sudah langsung nyambung kalau itu Isna penyiar, padahal saya bilang dari redaksi majalah Respon. :D

Ini mungkin agak narsis. Tapi begitulah. Memang menjadi penyiar membuat kita (sedikit) eksis. Hanya satu pesan saya: jangan keblinger dengan keeksisan. :D


2. Kerjanya enak


Gimana nggak enak? Kerja cuman duduk di kursi siar, sambil ngomong, dapat duit. Pas nge-play musik atau iklan, kita bisa istirahat sejenak. Kadang leyeh-leyeh senderan di kursi putar sambil dengerin lagu nasyid (saya kan di radio dakwah) di headphone. Kadang online sebentar. Kadang sambil nyicil sarapan. Atau bahkan sampai tiduran sebentar di meja siar karena masih ngantuk--efek pagi-pagi siaran (hahaha, parah :D). 

Malah, di saat tengah siaran--karena lagi muter lagu, saya keluar sebentar dari box siar. Saat itu ada artis yang datang ke studio nengokin temannya. Saya diajakin partner siar saya buat foto bareng sebentar. Ngahaha, lebih parah kan? :p

Ruang siar radio Persada FM Solo, diambil dari ruang khusus narasumber yang tempatnya terpisah.

3. Menjadi Diperhitungkan


Iya, inilah yang juga saya rasakan. Dulu, mana ada orang yang ngelibatin saya untuk menjadi panitia dalam kegiatan? Nggak ada juga yang nawarin saya daftar organisasi kampus, entah BEM, entah rohis dsb. Padahal teman-teman saya ada yang daftar karena awalnya ditawari dulu. Kalau usul atau menyampaikan pendapat, saya juga lebih sering diketawakan karena suara saya saat itu malah kedengeran aneh saking ndredeg-nya. Hahaha. Overall, saya itu udah mirip kayak seorang figuran di sinetron yang sebenarnya menjadi bagian di dalamnya tapi perannya diabaikan penonton. Bahahaha.

Tapi semua perlakuan itu berubah drastis ketika saya jadi penyiar radio. Tiap kali ada kegiatan atau event-event tertentu baik yang digelar stasiun radio atau di luar itu, saya selalu dilibatkan dari awal hingga akhir. Bahkan tak jarang, saya yang awalnya hanya sekadar membantu justru malah jadi pemain inti karena ketua panitianya hanya eksis saat rapat saja. :D Saat saya usul, didengarkan bahkan langsung disetujui. Saya bahagia sebetulnya, tapi di balik itu ada rasa kecewa yang mendalam. Betapa banyak dari kita yang melihat dari covernya dulu: cover bagus berarti oke. Padahal belum tentu begitu bukan?

4. Banyak dapat gratisan


Bisa dibilang, saya untung banget jadi penyiar. Gimana enggak? Habis ngecuis siaran, ada pendengar datang bawain kacang rebus, kedelai rebus dan pisang rebus. Kadang tahu goreng, gulai kambing, cup cake, keripik dan aneka makanan lainnya. Kadang beli di warung yang mereka ini pendengar, nggak mau dibayar. Apalagi atasan di radio orangnya juga lomo banget. Kalau pas lagi ngumpul, "Yuk, kita makan disitu!" Atau pas habis acara--padahal saya dan teman-teman sudah kenyang makan prasmanan tamu--masih diajakin mampir kulineran.

Saat siaran bareng salah satu provider, dapat gratisan HP. Hanya becanda minta digratisi buku, ternyata beberapa waktu kemudian saya dikirimi buku. Dan entah mengapa, nomor saya sering dikirimi pulsa. Ada yang ngaku ngirim, tapi banyak juga yang enggak. Enak berlipat-lipat nggak tuh? Gaji sih cuman 200-300an ribu (ups, pura-pura nyeplos :p), tapi gratisannya banyak tak terkira. Wkwkwk.

Ini belum keitung kalau tiba-tiba saya diajakin salaman, nggak tahunya saya dikasih uang. Apa?! Nyogok? Bukan, cuman ngasih, dibalikin nggak mau. Akhirnya buat nraktir teman-teman radio. Ya, walau masih kurang, dan ujung-ujungnya yang diajakin yang nombokin. Ngahahaha.


5. Dapat tawaran kerja


Inilah mengapa profesi penyiar radio itu sering dijadikan sebagai batu loncatan. Ya, karena jadi penyiar radio itu menjadi nilai plus banget buat kita, terutama untuk mendapatkan pekerjaan lainnya. 

Saya ditawari jadi redaktur sebuah majalah dakwah juga karena saya penyiar dan tentu, karena mereka tahu saya juga bisa menulis (sebelumnya saya sudah lebih dulu bergabung menjadi tim redaksi lewat audisi). Karena tahu saya penyiar, saya sering jadi MC atau moderator di SMA saya dulu. Ada juga sekolah milik ibunya teman kenalan. 

Hanya sayangnya, saya tetap nggak enak kalau dibayarin. Merasa sini cuman apalah, karena belum bisa jadi MC atau moderator yang oke kayak teman-teman penyiar yang super duper lebih keren. Kalau diamplopin, biasanya saya kembalikan lagi. Kadang juga hanya dapat bingkisan parcel, tapi tetap saja saya ngerasa nggak enak nerimanya--walau tetap diterima. Ngahahaha.

Foto enam tahun lalu yang saya dapat karena di-tag pendengar di Facebook. :D

Gimana? Enak kan jadi penyiar radio? Hihihi. Tapi bagi saya, dikenal banyak orang justru membuat saya tidak nyaman. Gimana nggak nyaman? Orang tiap hari di-smsin pendengar. Kalau enggak balas, dia akan ngasih dalil, "jawab salam itu wajib lho." Padahal sehari dia bisa sms salam sampai lima kali bahkan lebih. Apa nggak terganggu tuh? Kadang diajak curhat, kalau nggak dibalas saya disebut sombong. Awalnya saya balas karena dia ini perempuan. Tapi kok ya lama-lama malah diajak curhat, bahkan curhat yang nggak penting. Kadang sudah malam pun ada saja yang masih sms atau telpon. Kalau di fb terkadang saya bisa kena unfriend, walau beberapa waktu kemudian dia add lagi. Hahaha.

Kadang kalau jalan di satu tempat, ada yang nyenyumin, karena merasa nggak kenal saya nggak balas tersenyum, saya bisa saja dicap anggak (bahasa Jawa) atau sombong. Lebih-lebih saya jadi penyiar di radio dakwah milik yayasan dakwah yang jumlah jamaahnya besar. Tingkah laku kita hingga gaya pakaian atau jilbab yang kita kenakan juga ikut disoroti. Bahkan hanya sekadar unggah foto kru yang putri ada di depan sementara kru putra di belakang saja dapat kritikan. Padahal biar kelihatan dekat, sebetulnya ada jarak sekitar satu meter lho. Hihihi.

Baca juga : Resign karena Panggikan Jiwa Menjadi Ibu

Sekarang saya sudah resign dan memilih menjadi ibu rumah tangga sejak pertengahan tahun 2012 lalu. Kini kehidupan saya kembali seperti saat saya belum menjadi penyiar radio. Saya hidup jauh dari orang-orang yang mengenal saya. Saya tak pernah lagi menjadi MC apalagi moderator. 

Kini, saya hanyalah emak erte biasa yang jarang kemana-mana. Pun begitu, saya justru menikmati kehidupan seperti ini. Serasa damai. Jika pergi ke satu tempat, saya tak perlu merasa bersalah ketika ada orang yang terlihat tersenyum ke arah saya. Ya, karena saya yakin, pasti dia tengah tersenyum kepada orang yang ada di belakang saya. Sama halnya yang sering saya alami saat belum jadi penyiar radio dulu.

So

Jadi penyiar radio itu enak nggak sih? Silahkan dijawab sendiri-sendiri. 

Lah?! Kok malah balik nanya? Ahaha ahihi. :D

Kamis, 17 November 2016

Tulisan ini sudah saya posting terlebih dahulu di Facebook. Ya, biar pesannya sampai kepada para suami. Nah, biar tulisan ini bisa dibaca sewaktu-waktu, saya posting disini juga. Hihihi.


Jujur ya, suami. Bagi kami, suami akan terlihat ganteng maksimal kalau doi mau bantuin kerjaan istrinya. 

Tahu ada cucian numpuk di bak, belum sempat dijemur, dia langsung angkat ke jemuran. Jemurin baju.

Tahu istrinya repot masak di dapur, doi ambil alih mandiin anak-anak. Pakaiin baju. Sisirin. Bedakin.

Tahu lantainya kotor, istri sudah rempong ngurusin anak-anak, langsung ambil sapu. Disapu bersih. Syukur-syukur dipel sekalian.

Tahu kamar mandi lumutan. Istri belum sempat nyikat kamar mandi lantaran si bocil rewel mulu karena demam, kamar mandinya langsung disikat bersih. 

Atau kalau enggak, ambil alih momong anak dulu, biar istri yang nyelesain kerjaan rumah tangga.

Tahu istrinya lagi morning sickness, karena dia bisa masak, ya sementara koki rumah tangga diambil alih. Kalau nggak bisa masak, beli di warung dulu.

Tahu istrinya lagi sibuk nyetrika baju-baju yang buat kerja suami, sementara si baby lagi pup ya urusin sendiri saja dulu. Nggak perlu harus panggil istrinya. "Sayang, adek lagi pup nih. Cepetan gantiin popoknya." Ya, kalau emang nggak mau gantiin, minimal gantiin nyetrika bajunya, gimana?

Harapan kami tak muluk-muluk kok, suami. Cukup bantuin yang ringan-ringan, yang suami mampu mengerjakannya. Tanpa kami minta, sudah tanggap sendiri. 

Membantu kerjaan rumah tangga itu bukan sesuatu yang memalukan. Jangan tengsin, jangan gengsi bantuin istri. Saya nggak mau membahas ini kewajiban siapa. Nanti ndak terjadi perang lagi.

Ya, karena berumah tangga itu soal saling memahami dan mengerti. Istri bukanlah robot yang sanggup mengerjakan rentetan pekerjaan tanpa istirahat. Dia pun bukan amoeba yang bisa membelah diri. Sekalipun kemampuan multitaskingnya tidak diragukan lagi, tapi dia hanyalah manusia biasa yang terkadang merasa lelah dengan segala kerempongan ini. 

Plis, jadilah suami yang ganteng maksimal di matanya. Jangan setengah-setengah. Kalau gantengnya setengah-setengah entar malah jadi aneh lho. Iya, aneh. Ruwet juga kalau muka sampeyan dari sebelah kanan mirip Song Jong Ki sementara dari sebelah kiri mirip Dede Sunandar (walau dari depan mirip Mas-mas yang jualan bakso bakar depan rumah :p).
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!